Waktu menunjukkan pukul 10.40 WITA saat aku menjejakkan kakiku untuk kali pertama di Tanah Borneo. Bersyukur karena penerbangan dari Jakarta berjalan lancar. Aman dan tepat waktu. Bersyukur karena akhirnya bisa juga sampai di Balikpapan. Selamat datang di Borneo, kataku dalam hati. He he he pengalaman pertama memang selalu mengasyikkan.
Apalagi saat akhirnya menjumpai wajah-wajah yang sudah sangat aku kenal di tanah asing ini. Yap, kakakku, istri, dan anaknya telah menantiku dengan senyum mengembang di Bandara Sepinggan. “Akhirnya sampai juga di sini”, kata kakak cowokku.
Maklum, kedatanganku terbilang mendadak. Selama ini keinginanku berkunjung ke sana hanya berupa wacana saja. Maka ketika libur lebaran sudah dipastikan, segera saja dalam waktu singkat aku berburu tiket untuk merealisasikan hal itu. Nampaknya niat kaburku dari kosan yang sepi akibat ditinggal mudik para penghuninya ini memang direstuiNya. Aku pun mendapatkan tiket yang terbilang murah. PP hanya 811rb. Pengalaman ke Tanah Borneo untuk kali pertama langsung menantiku.
Kami pun bergegas meninggalkan bandara. Tujuan pertama adalah Balikpapan Superblock, untuk makan siang. Setelah makan dan berkeliling di mal itu, kami pun menuju ke Hotel Nuansa Indah yang terletak di Jln. Jend. Sudirman No. 1. Booking di sana semalam sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju Samarinda. Tapi sebelum itu, sudah pasti jalan-jalan di seputar kota Balikpapan dulu.. Usai beristirahat sebentar, aku pun mulai diantar berkeliling kota…
Day 1
-Pasar Inpres Kebun Sayur
Bagi yang baru kali pertama mendengar nama pasar ini, yang terbayang mungkin sesuai namanya di pasar ini memperjualbelikan sayur-mayur. Tapi, ternyata komoditas utama barang dagangan yang dijual di pasar yang berada di Jln. Letjen Suprapto ini adalah suvenir khas Kaltim.
Ada macam-macam aksesoris dari batuan, kaus, hiasan dari kayu, dan lain-lain. Waktu aku datang, suasana pasar tak terlalu ramai. Dan aku pun hanya membeli satu kaus seharga 22.500 he he he.. Gak niat beli-beli, cuma pingin tau saja pasar yang katanya merupakan pusat penjualan cenderamata terbesar di Kaltim ini.
-Pantai Banua Patra
Di perjalanan menuju pantai ini, aku diperlihatkan stadion kandang Persiba. Kesannya? Yah begitulah…, kalah jauh dengan Manahan wkwkw.. Aku juga melewati aset nasional milik Pertamina, berupa jejeran kilang-kilang minyak. Melewati juga Pelabuhan Semayang. Dan sampailah di Pantai Banua Patra.. eng ing eng… Laut lepas dengan pasir putih. Ada deretan penjual makanan di pinggirnya. *komennya gitu aja;)
-Pantai Kemala
Berada di sebelah Pantai Banua Patra, Pantai Kemala memiliki garis pantai yang bisa digunakan untuk melakukan sejumlah aktivitas air. Di pinggiran pantainya juga ada cafe yang menyediakan tempat duduk. Sama seperti di Banua Patra, nampaknya asyik juga buat nongkrong di sore hari.
-Pantai Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat)
Dinamakan seperti itu karena di depan pantai, berdiri sebuah Monumen ‘Perjuangan Rakyat’ itu. Melakukan aktivitas di pinggir pantai ini seperti berjalan-jalan dan bermain rollerblade juga enak, karena ada jalan mulus di sepanjang pantai. Lokasi pantai ini bersebelahan dengan Banua Patra dan Kemala. Jadi berderetan gitu.
Menyambangi tiga pantai membuatku lapar. Pantas saja lantaran hari sudah beranjak sore hari. Mbakku kelihatannya bisa membaca pikiranku. Ia mengajak menikmati bakso terenak di Kota Balikpapan. Cocok! he he he. Dan, ternyata baksonya lumayan enak. Jauh lebih enak ketimbang bakso di Jakarta.
Warung bakso yang kami datangi ini bernama ‘Lik Min’. Tapi, kok mahal ya?
Bakso empat mangkok, dua teh botol, dua teh tawar panas, total kerusakannya hingga 80 ribuan. Gleek! Masku pun menjelaskan, kalau biaya hidup di Balikpapan memang mahal. Uang segitu hanya untuk beli bakso, terbilang biasa. Ya wislah, gak apa-apa. Toh aku juga cuma ditraktir wkwkw
Ada satu hal lagi yang membuatku cukup tertarik. Sembari berkeliling, masku itu menceritakan mengenai angkutan umum di Balikpapan, yang dianggap cukup berbeda dengan kota-kota lainnya. Di Balikpapan, kursi penumpang semuanya menghadap ke depan, bukannya saling berhadapan seperti lazimnya angkutan atau mikrolet. Kemudian, mobil angkutan umum harus benar-benar bersih dan kinclong. Jika tidak, penumpang tak mau menaikinya.
Kebiasaan ini terungkap saat masku mencucikan mobilnya di sebuah pencucian mobil. Ketika itu ia melihat sejumlah mobil angkutan umum keluar masuk di sana. Sopir mencuci sendiri mobilnya, dan hanya memberikan sekitar 5 ribu-8 ribu pada pengelola pencucian. Sewaktu ditanya, si sopir bilang, “Ya harus begini Mas. Harus sering dicuci. Karena jika mobil kotor sedikit saja, penumpang tak ada yang mau naik. Jadi kami harus sering-sering ke pencucian mobil.” Waah aku jadi memperhatikan sejumlah angkot yang lewat. Memang bener, itu angkot kinclong-kinclong semua. Entah kebiasaan masyarakat di sana ada hubungannya dengan predikat Kota Balikpapan yang terkenal rapi dan bersihnya itu…
Malam harinya setelah mandi dan ngaso, kami menuju ke Plaza Balikpapan yang letaknya tak begitu jauh dari Bakso Lik Min. Posisi plaza ini persis di depan laut. Karena mendekati hari Lebaran, suasana plaza ramainya minta ampun. Aku seperti sebelumnya, hanya sekedar melihat-lihat saja…
Akhirnya kami pun kembali ke hotel dan tiduuuur. Oh ya, sempat nonton pertandingan uji coba Yordania vs timnas juga.. wkwkw
Day 2
-Kami bangun pagi untuk menikmati breakfast. Sesudahnya, sesi berenang pun dimulai.. Kolam renang hotel seakan menjadi milik pribadi karena hanya kami berempat yang menggunakannya he he he.. Setelah itu, kami mulai berkemas untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Samarinda.
-Restoran Kepiting Kenari
Satu hal yang tak boleh dilewatkan dalam acara jalan-jalan adalah menikmati
kuliner khas daerah bersangkutan. Mas serta mbakku paham betul hal itu. Aku diajak ke restoran yang menyajikan kepiting sebagai menu utamanya. Kabarnya ini restoran terkenal banget. Namanya resto Kepiting Kenari, di Jln. Iswahyudi. Lokasi persisnya di dekat Bandara Sepinggan.
Mbakku lantas memesan masing-masing setengah porsi kepiting lada hitam dan kepiting saus asam manis yang menjadi menu favorit. Kenapa hanya setengah saja pesannya? Karena katanya, satu porsinya banyak banget. Eh benar juga. Pesanan itu ditambah sayur kangkung sudah cukup membuat kami bertiga kewalahan menghabiskannya. *ponakanku tidak aku hitung soalnya porsi makannya cuma sedikit xixixixi Waah ternyata benar. Ini kepiting enak sekali!! Girang aku jadinya
-Pantai Manggar Segara Sari
Dengan perut kenyang, masku mengarahkan mobil ke Pantai Manggar Segar Sari. Aroma ikan asin langsung menyambut kami saat mobil berhenti di tempat parkiran. Kembali, aku hanya melihat-lihat lokasi sebentar. Jika dibanding tiga pantai di hari sebelumnya, Pantai Manggar ini juga berpasir putih namun punya garis pantai yang cukup luas. Fasilitas penunjangnya pun jauh lebih komplet. Tapi aku harus jujur, jika pantai-pantai di Balikpapan tak cukup menggodaku..
-Penangkaran buaya
Lokasi penangkaran buaya ini terletak di Teritip. Berjarak sekitar 27 kilometer dari kota Balikpapan, bisa diakses dengan menggunakan angkutan umum. Penangkaran ini mulai beroperasi sejak 1991 lalu. Ada tiga jenis buaya yang berada di penangkaran ini. Terbanyak yakni jenis buaya air muara, dan sisanya jenis buaya air tawar serta buaya supit. Koleksi buaya terbesar saat ini mencapai panjang sekitar empat meter. Beberapa tahun lalu bahkan ada yang hingga tujuh meter! Namun terpaksa harus dibunuh karena ‘jahat’ pada teman-temannya.
Melihat buaya-buaya berada di kandang berderet-deret membuat nyaliku ciut. Maklum, aku paling takut dengan binatang melata dan reptil. Apalagi sewaktu melewati jalan sempit yang kanan-kirinya terdapat kandang-kandang buaya itu. Hasilnya, aku berjalan sambil menundukkan kepala dan tangan memegangi erat-erat kaus masku ha ha ha keringat dingin keluar semua euy
Selain melihat buaya, ada atraksi lain seperti memberi makan buaya dengan ayam mati, juga menaiki gajah yang juga terdapat di sana. Untuk buah tangan, dijual pula berbagai aksesoris dari kulit buaya, serta tangkur buaya…
-Stadion Palaran
Perjalanan menuju Samarinda pun dimulai selepas dari penangkaran buaya. Sebelum sampai di Kota Samarinda, masku membelokkan mobil ke arah Stadion Palaran. “Stadion Utama Kaltim” begitu tulisan di gerbang menyambut kami.
Stadion yang dibangun untuk PON XVII 2008 Kaltim itu kini jarang digunakan. Akses jalan menuju ke area stadion juga mulai rusak. Cukup disayangkan karena stadion ini berdiri dengan megahnya, berikut sejumlah fasilitas lainnya. Kabarnya, biaya perawatan stadion ini mencapai 80 juta rupiah per bulannya.
Dan akhirnya, setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, kami pun sampai di rumah Samarinda. Horeee aku nyampai Samarinda, Kota Tepian Mahakam, untuk pertama kalinya. *masih berlanjut ceritanya










[...] Ini catatan bagian kedua dari Kabur Ke Kaltim. Untuk yang bagian pertama bisa diklik di sini dan untuk foto-foto bisa dilihat di flickr ku. Share this:ShareFacebookTwitterEmailPrintLike [...]
By: Pesut, Penyu, Kukar, dan Kembang Api « aning jati's blog on October 6, 2011
at 8:35 am